Cerita Perjalananku di New Zealand

Jika New Zealand adalah sosok wanita, maka ia adalah perempuan yang cantik, ramah, dan punya cita rasa seni budaya yang tinggi!

Kecantikan New Zealand sudah saya persiapkan sejak saya mendapatkan ajakan untuk mengunjungi negeri ini. Negeri yang berada “mojok” sendirian di sisi selatan bumi kita dan jauh dari hiruk-pikuk konflik geopolitik negara-negara sisi Utara. Tak heran jika suasana di negeri ini sangat damai dan tenang.

nz_feat

Saya masuk New Zealand lewat Auckland. Kota bisnis dengan penduduk terbesar di New Zealand, dipenuhi gedung-gedung tinggi dan menara tertinggi di sisi selatan muka bumi yaitu Sky Tower, yang tingginya sekitar 2,5 kalinya Monas. Auckland merupakan kota metropolitannya New Zealand, bangunan-bangunan dengan arsitektur moderen menyatu dengan baik dengan bagunan bergaya lama peninggalan masa Inggris. Saya menyusuri kota ini ditemani oleh Julie dari Tourism New Zealand dan Annie dari Auckland Tourism.

Gempita kota besar Auckland seketika berubah saat saya mengunjungi salah satu pulau terbesar di gugus kepulauan milik Auckland yaitu Pulau Waiheke. Di pulau ini kehidupannya sangaaat damai dan tenang.

Kota kedua yang saya singgahi adalah Wellington. Kenapa Wellington? karena kota ini dijuluki  creative capital atau ibu kotanya industri kreatif New Zealand. Wajar sih karena sejak adanya WETA Workshop, sebuah studio special effect berkelas dunia, New Zealand jadi kebanjiran proyek film dari berbagai negara terutama Hollywood. Di sini saya ditemani oleh Selena dari Wellington Tourism. Kami walking tour ke beberapa tempat yang menjadi daya tarik Wellington, seperti Cuba Street sampai City Market. Di City Market, Selena memberitahu saya bahwa ada salah satu pemain rugby terkenal dari tim nasional New Zealand yaitu Beauden Barret sedang belanja. Langsung saja saya minta foto bareng dengannya.. haha!

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saya sudah berangkat menuju Weta Workshop, beruntung sekali karena akhirnya berkesempatan mampir ke kantornya dan bertemu dengan salah satu conceptual artist-nya yaitu Christian Pearce. Bagaimana tidak karena bisa mampir ke kantor Weta ini merupakan salah satu mimpi saya atas New Zealand 🙂

Keseruan selanjutnya, siapa yang sangka gara-gara sketching di NZ ini saya jadi bisa mampir ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dan bertemu dengan duta besarnya yaitu Pak Jose Tavares. Tak lupa saya menyempatkan diri bikin sketching bangunan KBRI ini.

Kota terakhir kunjungan saya adalah Queenstown. Kembali ke awal pembukaan tulisan saya ini tentang cantiknya New Zealand? Nah.. Queenstown sepertinya layak dijuluki “Sang Putri” karena menurut saya kota ini yang tercantik. Alam Queenstown sungguh memukau! sungguh sangat indaah sekali.. bahkan keindahan ini sudah bisa kita lihat sesaat ketika lampu tanda kenakan sabuk pengaman di pesawat dinyalakan. Pegunungan dan danaunya sangat indah dan cantik.

Kekaguman saya atas Queenstown makin menjadi ketika saya berkeliling mulai dari sekitaran danau Wakatipu, Arrowtown hingga Paradise di Otago. Sungguh keindahan alam yang sangat memukau. Saya bilang kepada Trish – pemandu yang menemani saya hiking ke salah satu bukit di Arrowtown, bahwa kini saya percaya bahwa Tuhan memiliki cita rasa estetika yang tinggi sekali terbukti dengan terciptanya Queenstown ini. Trish sangat tersanjung dengan ungkapan saya barusan dan dia pun menyadari rasa bersyukurnya bisa tinggal di kota ini. Menurut Trish, warga Queenstown sangat beruntung karena semua mendapatkan pemandangan yang cantik sekali dari jendela dan pekarangan rumahnya.

New Zealand, memiliki kenangan dan kesenangan tersendiri bagi saya. Tidak cuma keindahan alamya, tapi juga cuacanya. Konon New Zealand terkenal juga sebagai negara yang ramah dan ideal dalam membesarkan anak. Saya pun baru tahu karena di sini tidak ada hewan buas, ular berbisa, kalajengking, atau hewan-hewan beracun dan membahayakan! Oh iya.. dan yang tidak kalah penting adalah warga dan masyarakatnya. Mereka semua nampak sangat ramah dan nyantai sekali. Kalau pun kita mendengar ada teriakan dalam kerumunan, bisa jadi itu adalah penggemar rugby yang sedang mengagumi tim nasionalnya. Ya.. bangsa ini sangat tergila-gila dan menyanjung tim rugby-nya. Tak heran jika saat ini mereka sedang sibuk mengadakan referendum untuk mengganti bendera nasionalnya dan salah satu desain benderanya mirip dengan logo All Blacks – tim rugby nasional New Zealand 😀

Belum puas rasanya seminggu berada di New Zealand.. semoga kelak saya berkesempatan datang berkunjung lagi.. 🙂

«
»

4 comments on “Cerita Perjalananku di New Zealand”

  1. Asli ngiri pisan liat fotona kang motulz, I’m gonna write down NZ on my wish lists 😀

    1. motulz says:

      Semangaaat kak 😀

  2. Rizky Besatrio says:

    Keren Mas..
    Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan dari tulisan di atas. Apakah bisa minta emailnya? Saya akan sangat berterimkasih apabila mas bisa sharing dengan saya melalui email.
    Terimakasih sebelumnya

    1. motulz says:

      Halo Mas Rizky… bisa email ke motulz@gmail.com koq 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: