Creative Sharing Tentang Sketching di IKJ

Menggali dan berbagi ilmu itu adalah dua hal yang saling melengkapi. Terlebih bisa berdiskusi diantaranya. Nah, ini yang selalu terjadi saat saya melakukan sharing class tentang tema apa saja, terutama kreativitas.

Baru saja saya diundang untuk berbagi cerita tentang live sketching di ITB bersama Sheila Rooswitha, saya jadi ingat kalau saya pun punya janji untuk sharing tentang sketching di IKJ. Berawal dari pertemuan saya dengan Beng Rahadian (komikus, desainer, dan pengajar di IKJ), ia ingin saya share tentang “petualangan” sketching saya belakangan ini. Alasan Beng, bahwa banyak mahasiswa tingkat satu yang gemar menggambar juga doodling. Rasanya akan menarik jika mereka mendengar cerita saya tentang sketching.

IKJ_feat

Pagi itu, saya tidak sendirian karena Bang Saut – salah satu pengajar DKV-IKJ pun ikut memberikan presentasi tentang apa itu sketching / sketsa. Penjelasannya menarik, tidak sedikit hal yang selama ini saya tidak tahu akhirnya jadi tahu. Termasuk cerita beliau tentang banyak seniman termasuk Henk Ngantung mantan gurbenur DKI yang hobi sketching.

Giliran saya, saya lebih banyak menceritakan kenapa belakangan tertarik menggambar “manual” dengan menggunakan pinsil, pena, bahkan mengurangi penggunaan penghapus. Apalagi selama ini semua pekerjaan mengharuskan pekerjaan yang cepat dan minim kesalahan maka penggunaan “undo” bisa sangat menolong. Namun pada intinya kenapa saya tetap menggambar dengan alat tulis atau alat gambar “tradisional” lebih kepada proses menjaga kepekaan dan sensitivitas indera mata, pikiran, dan tangan di saat bersamaan. Mengambar dengan komputer, pen-mouse, atau gadget itu lebih kepada kebutuhan pekerjaan yang selalu memiliki deadline dan revisi. Sementara itu, peserta yang hadir di kelas adalah mahasiswa/i yang sangat-sangat paham dengan teknologi digital. Di sinilah saya mendapatkan masukan lewat beberapa pertanyaan yang menurut saya mendasar namun krusial.

Pada akhirnya saya tidak bisa bilang bahwa anak sekarang tidak suka alat gambar manual dibanding digital, mereka hanya belum mencoba. Bagaimana mungkin mereka mengenal alat gambar manual jika generasi mereka saat lahir pun sudah dikelilingi dengan gawai digital (digital gadget)? Saat mereka dikenalkan, bisa jadi mereka pun tertarik. Kesempatan memperkenalkan inilah yang menurut saya penting.

Semoga teman-teman mahasiswa dan mahasiswi di IKJ kini mendapatkan pilihan untuk mencoba ini itu, jangan khawatir dengan kesalahan. Ingat.. kampus adalah laboratorium proses kreativitas, di sanalah kalian bebas melakukan sebanyak-banyaknya eksperimen kreativitas, baik itu gagasan atau kegiatan. Kalian memiliki tempat, waktu, dan terutama ada dosen dan asisten yang sedianya ada untuk mendampingi dan berdiskusi dengan kalian.. manfaatkanlah!

«
»
Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: