Cerita Nadif, Anak Kota Sabang Yang Ingin Melihat Dunia

Sungguh senang dan takjub berkenalan dengan anak kelas II SD yang doyan baca peta buta dan hafal beberapa nama ibu kota negara. Yang menariknya lagi, anak ini tinggal di paling ujung gugusan pulau-pulau di Indonesia yakni Pulau Weh.

Ini kali pertamanya saya menginjakan kaki di pulau paling ujung Barat Laut wilayah Indonesia. Kebetulan saya diajak oleh tim Astra International yang sengaja datang ke Kota Sabang untuk memberikan bantuan kaca mata untuk anak-anak SD dan SMP di wilayah Kota Sabang Aceh. Saat acara berlangsung saya duduk dekat dengan beberapa anak SD, salah satunya bernama Nadif.

DSC00069-small

Nadif nampak sebagai anak yang ramah dan terbuka untuk berkenalan dengan orang baru. Untuk anak berusia 8 tahun, gaya bicara Nadif ini seperti ciri anak yang cerdas dan kreatif. Saya duduk bersama mbak Ainun (@ainunchomsun), berbincang-bincang dengan Nadif dan anak-anak lainnya. Salah satu topiknya adalah, kemana biasa mereka menghabiskan liburan? Rata-rata mereka menjawab ke Banda Aceh. Namun beda halnya dengan Nadif, ia bilang ia liburan ke Portugal, ke Papua Nugini, bahkan ke Nepal. Kontan saja saya terkejut, apa iya?

“Jalan-jalan di peta oom!” Nadif menjawab sambil tertawa.

Terus karena Nadif menyebutkan nama-nama negara yang tidak umum, saya kembali bertanya darimana Nadif tahu semua itu? Ia jawab dengan cueknya “Yaa.. kan kami punya globe oom”. Saya dan mbak Ai pun jadi ikut tertawa.. sambil takjub.

Karena Nadif suka dengan geografi dan peta maka langsung saja saya perlihatkan GoogleMaps di ponsel saya. Seketika itu juga Nadif nampak tertarik dan antusias, jarinya menggeser ke sana-sini dan ia nampak hafal sekali dimana letak Korea, Jepang, bahkan Belgia dan Amsterdam! Beberapa temannya memberikan pertanyaan dan seketika juga Nadif menunjukkan di mana kota atau negara itu berada, hebat sekali!

Namun saya baru sadar ketika Nadif menatap ponsel saya dengan jarak mata dekat sekali, di situ saya baru tahu kalau Nadif memang punya masalah dengan keterbasan pandangan matanya. Saya pun baru tahu kalau Nadif adalah salah satu anak yang akan ke depan panggung mewakili anak-anak sekolahnya untuk menerima bantuan dari Astra International.

Selama acara berlangsung saya berfikir dan percaya bahwa ada banyak sekali.. ya banyak sekali! anak-anak Indonesia di pelosok penjuru negeri ini yang pandai dan punya antusias belajar yang besar sekali seperti Nadif. Hanya saja tentu masih banyak ditemukan keterbatasan-keterbatasan di sana, termasuk ketrbatasan fasilitas penunjang belajar. Terlebih lagi masalah keterbatasan yang muncul dari keterbatasan fisik si anak, misalnya masalah gizi, makanan, dan kesehatan, seperti halnya dengan kesehatan matanya Nadif ini. Kesehatan mata anak-anak memang nampak sederhana apalagi jika dibanding isu masalah pendidikan nasional? namun siapa yang kira betapa besarnya peran sebuah kacamata ini bagi Nadif dan anak-anak sekolah lainnya bukan?

Saya sengaja mengikuti terus Nadif dalam proses pengecekan kemampuan matanya hingga ia mendapatkan kacamata minusnya. Ikut senang rasanya saat melihat Nadif begitu gembira saat menerima kacamatanya. Warna frame (bingkai)-nya pun ia boleh pilih sendiri, ia memilih warna biru. Semoga dengan kacamata barunya ini, Nadif bisa menjadi lebih mudah membaca untuk menambah antusias belajaranya lagi. Harapan saya kelak Nadif akan sukses menjadi orang yang pintar dan sukses, mampu pergi ke banyak penjuru negara untuk “melihat” langsung dunia luar sana.. langsung lewat mata dan kacamatanya 🙂

«
»

2 comments on “Cerita Nadif, Anak Kota Sabang Yang Ingin Melihat Dunia”

  1. blontankpoer says:

    Salam buat Nadif ya, Kak Motulz..

    1. motulz says:

      InsyaAllah Pakde jika ada kesempatan kembali lagi ke Pulau Weh 😊😊🙏🏼🙏🏼

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: