Soundrenaline ex Bandara Polonia Medan: Air Show-nya Musik Indonesia

Siapa yang sangka dengan kehadiran bandara baru Kualanamu Medan, maka bandara lama Polonia yang sudah kosong melompong, kini menjadi tempat baru yang mengubah suara bising mesin jet pesawat dengan suara gahar mesin konser musik bernyali: Soundrenaline!

Pertunjukan kedua Soundrenaline 2014 di Medan ini memang membawa cerita tersendiri bagi saya. Saya penggemar dunia penerbangan atau aviation, saya pun penggemar musik dan penonton konser. Pertunjukkan Soundrenaline Medan ini memberikan sebuah kesan tersendiri bagi saya. Bandar udara (airport) Polonia di Medan yang selama ini saya tahu, tiba-tiba berubah ujud. Terminal kedatangan dan keberangkatan menjadi kosong dan kumuh. Tidak ada lagi barisan keamanan bandara, tidak ada lagi aktivitas penumpang dan ground crew di sana. Yang ada hanyalah barisan keamanan konser dan band crew yang terus wara-wiri dari satu panggung ke panggung lain.

Kesibukan suasana konser di bandara Polonia ini sungguh keren, bagaikan sebuah air show-nya musik Indonesia. Persiapan pertunjukkan dari satu panggung ke panggung lain, dari satu band ke band lain, layaknya diatur oleh sebuah ATC (air traffic control) yang terus memandu jalannya konser tanpa jeda. Kesibukan band crew sebelum dan sesudah tampil pun sangat mengagumkan. Untuk menjaga konsistensi penonton dan skedul pertunjukkan, panitia Soundrenaline tidak ragu untuk membuat sebuah stage-slider, sejenis conveyor belt namun digunakan untuk menggeser drum set. Jadi dalam jeda pergantian band, kru di atas panggung cukup menggeser drum det 1 band sebelumnya dengan band berikutnya dengan cara mendorong ke tengah panggung sebuah platform yang di atasnya sudah terpasang drum set yang sudah di setting khusus untuk band yang akan tampil.

Metode tersebut jelas memakan biaya, namun dalam konteks sebuah pertunjukkan akbar berkelas, cara tersebut jelas menjadi kesan dan concern tersendiri dari Soundrenaline. Dampak yang dirasakan jelas menguntungkan kru grup band yang akan tampil, pembawa acara yang menggiring mood penonton, dan yang sudah pasti adalah penonton yang tidak perlu menunggu jeda berlebihan hanya untuk menunggu setting alat band.

Gemuruh dan dentuman perangkat band rock hari itu, memenuhi seluruh ruang dan runway bandara Polonia. Panas siang hari tidak membuat para penonton dan aktivitas di apron bandara menjadi pasif. Sungguh sebuah perhelatan besar musik Indonesia yang terus akan dibutuhkan bagi khalayak penikmat, pelaku, dan industri musik Indonesia.

Arian (vokalis) bersama Seringai, membakar eks Bandara Polonia malam itu

Arian (vokalis) bersama Seringai, membakar eks Bandara Polonia malam itu

Sebagai intermezzo penutup, saya itu suka sekali dengan ajang air show. Saat saya menikmati Soundrenaline di eks bandara Polonia ini, saya malah terfikir tentang sebuah konsep kreatif untuk konser ini. Yaitu menjadikan tema “air show” sebagai tema khas konser di Polonia ini. Misalnya, semua SPG yang berjualan itu berdandan bak pramugari atau cabin crew yang membawa koper tarik. Lalu semua sekuriti konser berdandan bagai sekuriti bandara. Band crew berdandan bagai ground crew, yaitu mengenakan rompi yang menyala dan mengenakan head-set. Kemudian untuk membantu aktivitas panitia, mustinya di runway dilengkapi mobil listrik yang wara-wiri di lokasi konser, tentu akan membuat pemandangan lebih cool 🙂

Anyway.. Thanks to Soundrenaline! yang sudah dengan serius menggarap sebuah pertunjukkan musik berkelas di negeri ini. Semoga tetap berjaya menjadi air traffic control pertunjukkan konser musik di Indonesia

 

«
»

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: