Dua Hari Ikut Master Class Pesawat Tempur Eurofighter Typhoon

Pesawat jet tempur memang sebuah sosok yang menjadi idaman anak-anak, termasuk saya. Sejak kecil saya memang suka sekali dengan pesawat terbang terlebih lagi pesawat jet tempur. Hanya saja pesawat jenis ini memang tidak dekat dengan kita – wajar, karena ini bukan pesawat komersial yang bisa mengangkut penumpang siapa saja.

Pagi itu saya dikejutkan dengan undangan ikutan sebuah kelas dari perusahaan pesawat jet tempur buatan gabungan beberapa negara di Eropa bernama Eurofighter. Master class kali ini adalah tentang pesawat jet baru mereka bernama Eurofighter Typhoon. Yang menarik dari kelas ini adalah materinya bukan semua tentang pesawat Typhoon akan tetapi juga basic knowledge tentang apa dan bagaimana pesawat tempur itu sampai basic dog-fight.

Sejauh ini saya terus menikmati pengetahuan tentang pesawat jet komersial. Setiap perkembangannya saya ikuti dan saya pahami, kenapa? karena memang itu ketertarikan saya hehe.. Akan tetapi, ketertarikan saya akan pesawat jet tempur belum tercapai karena akses mendapatkan pengetahuan ini tidak umum dan tidak mudah.

Akhirnya kesempatan itu datang juga, hari pertama kami – peserta master class diundang di sebuah ruangan di Grand Hyatt Hotel Jakarta. Dengan menghadirkan empat orang narasumber dari Eurofighter yaitu Joe Parker – Export Director Eurofighter GmbH, Laurie Hilditch – Head of Future Requirements Capture Eurofighter GmbH, kemudian Paul Smith – mantan pilot Royal Air Force Inggris dengan berpengalaman 23 tahun yang kini menjadi test pilot-nya Eurofighter, lalu Martin Elbourne – International Business Development.

Dari mereka, kami peserta master class mendapatkan pemaparan tentang pentingnya memahami karakter sebuah wilayah atau negara dalam memilih pesawat tempur. Seringkali pesawat yang canggih belum tentu pas dengan karater wilayah yang musti dipertahankan. Kemudian apa prioritas sebuah negara dalam membeli sebuah pesawat tempur? untuk menjaga kedaulatan wilayah, perbatasan, dan udara? untuk melakukan penyerbuan ke negara lain kah? atau ingin digunakan sebagai mata-mata yang harus siap kabur saat ketahuan? Dari situ saya paham, bahwa dari hampir semua pesawat jet tempur yang ada saat ini semuanya sama canggih, kini keputusan kebutuhannya yang harus lebih diprioritaskan. Indonesia mampu dan bisa membeli semua jenis pesawat yang ada hari ini, mulai dari F-16, F-18, Sukhoi, Rafale, Eurofighter, dan seterusnya. Uang kita ada koq 😀 akan tetapi dari masing-masing pesawat tersebut memang memiliki karakteristik yang berbeda.

Hari kedua, kami peserta master class diajak ke PT DI Bandung (yang dulu kita kenal dengan IPTN atau Nurtanio). Kenapa di PT DI? Ternyata hubungan antara Airbus Defence & Space (induk perusahaan Eurofighter) dengan PT DI sudah lama terjalin yaitu sejak pembuatan pesawat N-212, lalu CN-235, dan bahkan CN-295 yang sering digunakan bepergian oleh Pak Jokowi. Dengan begini maka upaya transfer technology pesawat ini bisa mudah dilakukan, termasuk kemampuan melakukan maintenance (perawatan) dan penyediaan spare parts.

Di salah satu hanggar PT DI kita diperlihatkan Full Scale Exhibition Demonstrator dari pesawat Eurofighter Typhoon ini. Sungguh di luar dugaan saya ternyata pesawat ini besar sekali. Paul Smith menjelaskan segala sisi dari pesawat mulai dari ujung pesawat tempat menyimpan radar, juga kecanggihan canard (sayap kecil tambahan di bagian depan pesawat). Diperlihatkan pula beberapa jenis rudal yang dipersiapkan dalam segala kebutuhan dan kondisi. Seperti misalnya untuk karakteristik Indonesia, jenis rudal air-to-sea lebih dibutuhkan karena 3/4 negeri kita ini adalah lautan. Fungsi menjaga perbatasan dan mengejar penyelundup di lautan lebih jadi prioritas. Termasuk di situ diperlihatkan extra-fuel-tank yang siap dipasang di kedua sayap pesawat untuk tugas pengawasan perbatasan jarak jauh (wide range). Yang saya takjub adalah karena 70% pesawat ini dibuat dari carbon-fiber-composite maka pesawat ini jadi sangat ringan dan gesit. Kemudian dengan twin jet engine EJ200, maka pesawat ini dapat melakukan kecepatan supersonik (mach) tanpa harus melakukan afterburner yang dikenal dengan istilah supercruise, atau melakukan cruise (jelajah) dengan kecepatan supersonik. Maka dengan kemampuan jangkauan jelajah ini, jika pesawat ini ditempatkan di pangakalan udara Pekan Baru, jarak jelajahnya bisa mencapai Thailand, jika ditempatkan di Makasar maka jangkauan jelajahnya bisa mencapai Australia.

Tidak heran jika kecanggihan pesawat Eurofighter Typhoon ini pun cukup membuat gemas tim program TV Top Gear BBC, manakala Richard Hammond pun penasaran untuk melakukan  duel balap dengan mobil Bugatti Veyron di salah satu episodenya 😀 Nah.. apakah Indonesia berminat untuk membeli pesawat ini? Kita tunggu saja

«
»

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: