Eh.. Ada Yang Menarik nih Dengan Becak Palembang

Becak motor atau bentor, sudah sering kita temukan di banyak daerah di Indonesia. Nampaknya ini bukti jika makin banyak tukang becak yang sadar bahwa tenaganya sudah tidak ekonomis jika digunakan hanya untuk mengayuh angkutan penumpang.

Becak motor juga saya temukan di salah satu kawasan pasar lama di Palembang, Sumatera Selatan. Pagi itu saya – bersama rombongan blogger Festival Sriwijaya undangan dari Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Selatan sedang asik sarapan di kedai makanan Palembang yang pemilikmya asli keturunan arab.  Saat menikmati kopi susu, ada yang menarik perhatian saya di luar kedai yaitu sebuah becak motor yang sekilas saya lihat ada yang berbeda dengan mesinnya.

Saya hampiri dan ternyata betul, mesin yang digunakan bentor ini bukan mesin motor biasa melainkan mesin untuk pemarut kelapa di pasar. Nah lho? bukankah mesin ini malah tidak efektif dan efisien? Makin penasaranlah saya dibuatnya lalu saya dekati si tukang becak yang sedang bersantai leyeh-leyeh di jok depan.

Perkenalkan, namanya Oji Belek (30 tahun) yang memiliki nama asli Mohamad Fauzi. Mengubah becak gowesnya dengan mesin motor pemarut kelapa. Alasannya lebih murah dibanding menggunakan mesin motor biasa. Jika harga mesin motor biasa berkisar Rp.2.000.000, maka mesin pemarut kelapa ini bisa dibeli hanya dengan harga Rp.800.000 saja. Murah, karena buatan tiongkok. Lalu perakitannya menghabiskan biaya sekitar 1,6 juta.

Wah.. saya dibuat takjub dengan ide penggunaan mesin ini karena selisihnya cukup jauh. Tapi bagaimana dengan efisiensi bahan bakarnya? Menurut Oji, tidak terlalu jauh berbeda, walaupun secara konsumsi bahan bakar lebih irit mesin motor biasa, tapi tidak berarti mesin parut kelapa ini jauh lebih boros. Lumayan bukan? Lalu kenapa tidak semua bentor menggunakan mesin parut kelapa ini? Oji mengakui, secara pemasukan total memang tidak lebih menguntungkan dengan mesin parut karena mesin ini memang tidak dirancang untuk dipasang pada kendaraan bergerak. Menurut Oji, mesin parut ini sudah ngadat jika harus melalui jalan berlubang-lubang dan berguncang-guncang. Lalu saat hari hujan, Oji terpaksa harus berteduh bersama becaknya karena si mesin parut tidak bisa bekerja saat terkena air hujan. Iyalah karena mesin parut kan dibuat untuk diam di meja dan tidak terkena hujan 😀

Lalu kenapa Oji memilih menggunakan mesin parut kelapa jika faktanya tidak lebih menguntungkan dari mesin motor biasa? Alasannya karena masalah surat-surat. Penggunaan mesin motor biasa pada becak butuh surat-surat kendaraan bermotor. Polisi sudah paham bahwa angkutan ini sebetulnya ilegal karena kategorinya sudah bukan sekedar becak melainkan angkutan bermotor. Hal ini yang masih menjadi polemik panjang di semua kota yang memiliki angkutan bentor. Dengan menggunakan mesin parut kelapa, Oji terbebas dari konflik rutin dengan petugas. Alasannya sederhana saja, karena mesin parut kelapa memang tidak membutuhkan surat izin dalam penggunaanya.

Selain becak motor mesin parut kelapa milik Oji, saya juga diperkenalkan dengan Pak Edi Basuki (46 tahun), pemilik bentor namun dengan ukuran super saloon alias lebih lebar. Jadi jika kedua becak tadi diparkir sejajar, terlihat sekali becak milik Pak Edi ini lebih lebar. Saya yakin bisa muat dua orang asing berbadan lebar. Saya kagum melihatnya lantas bertanya pada Pak Edi, apakah ia membuat sendiri rancangan becak tersebut?

Ternyata bentor ukuran extra-large ini aslinya untuk pengangkut tebu di Bangka. Rangka yang digunakan sebagai struktur dasar becak pun lebih kokoh. Begitu pun ban aslinya, menurut Pak Edi menggunakan ban pacul yang digunakan pada motor trail. Sungguh unik dan menarik 😀

Sayangnya keberadaan becak-becak motor ini akan sirna. Pemda Palembang sedang mengkaji akan menghapus keberadaan becak-becak motor ini. Saya jadi sempat berfikir bahwa cerita unik dan khas bentor ini sesungguhnya merupakan hal menarik untuk diceritakan kepada wisatawan yang datang ke Palembang. Saya pun jadi berfikir bagaimana jika keberadaan bentor-bentor ini jangan seluruhnya digusur, namun diperbaiki, dirapihkan, lalu diberdayakan sebagai angkutan jarang dekat di lokasi-lokasi wisata di Palembang? Misalnya di sekitara Benteng Besak atau kawasan wisata di sekitar tepi Sungai Musi? Jangan-jangan malah menjadi ciri khas kan? 🙂

Entahlah.. namun saya yakin dan percaya bahwa Pemda Palembang akan memberikan solusi terbaik untuk Palembang dan warganya 🙂

(Semua foto milik @motulz)

«
»

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: