Inovasi Energi Terbarukan Yang Muncul di Pabrik Jamu Sido Muncul

Awal diundang ke Semarang oleh pihak pabrik farmasi jamu Sido Muncul, saya tidak terfikir akan melihat sebuah inovasi menarik. Saya pikir ini sekedar melihat pabrik jamu saja. Ternyata lokasi kunjungan pertama, kami dibawa ke sebuah danau di perbatasan Semarang dan Ungaran, yaitu danau Rawa Pening.

Saya berangkat dari Jakarta pagi-pagi buta, bersama rombongan blogger, photoblogger, dan juga vlogger. Rombongan dari Bandung harus berangkat lebih pagi, yang kemudian sesampainya di Semarang kami bertemu dengan rombongan dari Semarang, Jogja, dan Bali. Kami mengunjungi danau alam Rawa Pening. Ini kali keduanya saya berkunjung ke danau ini, yang sebelumnya dalam rangka berburu matahari terbit.


Berburu matahari terbit di tengah rawa-rawa : “Menikmati Heningnya Rawa Pening”


Rawa Pening memang sedang diupayakan oleh PemKab untuk dijadikan salah satu destinasi wisata. Upaya ini tidak mudah karena danau yang luasnya 2700 hektar ini, 1800 hektarnya tertutup oleh tanaman Eceng Gondok. Pemerintah Kabupaten terus berupaya membersihkan hama gulma ini yang perharinya hampir 500 ton Eceng Gondok yang harus diangkut ke daratan. Masalah yang diakibatkan oleh tanaman ini adalah sedimentasi atau pendangkalan. Tidak heran jika dulunya kedalaman danau ini bisa mencapai belasan meter, kini hanya tinggal 5 meteran saja.



Pabrik farmasi jamu Sido Muncul, awalnya tergerak untuk ikut peduli dalam mengembangkan wisata air danau Rawa Pening. Namun masalah Eceng Gondok ini pun akhirnya menjadi kepedulian mereka juga. Upaya demi upaya dilakukan oleh pihak pabrik jamu yang berdiri pada tahun 1951. Sebagai perusahaan yang “bertetangga” dengan danau Rawa Pening maka segala upaya pun dilakukan demi tercapainya misi pariwisata yang digagas oleh PemKab.

Upaya Sido Muncul nampaknya tidak sia-sia, setelah berkali-kali melakukan penelitian akhirnya tanaman Eceng Gondok ini berhasil diolah menjadi bahan bakar pabrik. Pak Irwan Hidayat – direktur PT. Jamu Sido Muncul menceritakan bagaimana panjangnya upaya CSR yang mereka lakukan yang pada akhirnya berbuah manfaat dari hama tanaman Eceng Gondok selama ini bermasalah.



Awalnya – masih menurut Pak Irwan, perusahaan mencoba mengolah Eceng Gondok ini menjadi biofuel atau bahan bakar nabati. Namun selain tidak efisien, harganya prosesnya tidak ekonomis. Akhirnya solusi terakhir adalah menjadikan Eceng Gondok tadi diubah menjadi pellet (atau biji) karbon yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pabrik. Tak disangka, hasil biji pellet ini mampu menggantikan bahan bakar minyak dan gas hampir setengah dari kebutuhan bahan bakar keseluruhan pabrik. Terlebih lagi selain bahan bakar limbah Eceng Gondok ini digunakan sendiri oleh pabrik, kini bahan pellet olahan Eceng Gondok malah bisa laku dijual ke pasaran bahan bakar seharga US$ 120 per ton.


 


Kini, masalah danau Rawa Pening sudah berubah menjadi manfaat. Perlahan-lahan pertumbuhan liar Eceng Gondok akan bisa lebih terkendali. Selain menjadi bahan dasar pembuatan bahan bakar pabrik, danau yang menjadi habitat Eceng Gondok pun kini akan menjadi lebih bersih dan kelak dapat digunakan sebagai obyek wisata air.

––

Terima kasih kepada PT. Jamu Sido Muncul

#SidoPiknik

«
»

2 comments on “Inovasi Energi Terbarukan Yang Muncul di Pabrik Jamu Sido Muncul”

  1. simbok says:

    aku pengen nulis tentang jamu tolak angin yang sakti berkhasiat itu! :)))

    1. motulz says:

      ayooo… share link nya di sini dong mbok 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: