MRT Jakarta: Ketika Aspek “Desain” Mulai Menjadi Perhatian Pemerintah

Dalam perkembangan pembangunan MRT Jakarta, hubungan kerja antara pihak konsorsium dengan Pemprov DKI berjalan lancar dan baik-baik saja. Namun di awal tahun 2017 muncul ke media pernyataan kekecewaan dari pihak Pemprov DKI Jakarta – lewat PLT Gubernur DKI Sumarsono, yaitu kecewa perihal desain kepala gerbong MRT.

Saat berita ini muncul, ada hal yang menarik bagi saya yaitu bagaimana seorang pejabat pemerintah kini begitu peduli dengan aspek desain sebuah produk, yaitu desain muka dari kepala gerbong MRT. Beliau mengatakan bahwa bentuk desainnya saat ini mirip seperti kepala belalang. Artinya, ada persepsi bentuk atau ikonik dari desain kepala gerbong tersebut atas bentuk hewan belalang. Bukankah ini hal yang menarik?

Mengapa menarik?

(Foto milik MRT Jakarta)

OK coba kita kembali ke beberapa tahun ke belakang, berapa sering kita mendengar ada pejabat pemerintah yang peduli dengan yang namanya desain? apalagi desain produk? Mereka seolah tidak peduli aspek-aspek apa saja yang mempengaruhi sebuah desain. Bagi mereka yang penting kesan yang mereka dapatkan sesuai dengan kenyamanan mata mereka saja. Persis dengan kejadian desain kepala gerbong MRT ini, Pak Sumarsono mengeluhkan desain tersebut bukan hanya karena terkesan seperti kepala belalang, namun ada yang berpendapat mungkin desain yang saat ini tidak sama dengan desain yang dipresentasikan waktu dulu. Mungkin juga mereka berharap desain kepala gerbong lebih lancip (streamline) yang lebih memberi kesan aerodinamis.

Saya tidak bekerja sebagai desainer produk, tapi kebetulan saya lulusan desain produk jadi paling tidak saya paham nilai-nilai dan aspek-aspek apa saja yang menjadi hal penting dalam sebuah desain. Ada banyak sekali pertimbangan-pertimbangan dalam sebuah desain produk, misalnya masalah struktur, material, ergonomi, hingga ke aspek biaya, dan teknis produksi. Desain memang memiliki aspek estetika, di sinilah aspek keindahan atau kesan yang bisa ditampilkan dalam bentuk sebuah produk. Dari aspek desain inilah maka sebuah “mesin” yang kaku bisa lebih nyaman bersinggungan dan digunakan oleh manusia. Lewat desain juga kita bisa merasakan kesan, baik itu kesan yang elegan, dinamis, sporty, dan seterusnya.

Namun demikian, pertimbangan aspek estetis ini harus mau berkompromi dengan aspek lain. Di sini musti ada toleransi antara hal teknis dengan hal estetis. Desain estetika sebuah produk bisa dilakukan dengan cara paling murah dan mudah juga, misalnya dengan menggunakan cat dengan desain warna yang menarik atau memberikan pola (pattern) agar produk terlihat lebih indah, dinamis dan seterusnya. Bisa jadi para pejabat Pemprov DKI pun sudah kadung terpukau dengan desain kepala gerbong yang lancip tadi akibat pernah melihat desain kepala gerbong dari monorel. Karena kebetulan desain monorel memang terlihat lebih streamline dan futuristis!

(Foto milik https://pemikirulung.wordpress.com)

Dengan kejadian ini, akhirnya publik dan media terpaksa diajak untuk memberikan perhatian pada aspek desain sebuah produk. Ini baru satu kejadian dan kasus, padahal ada banyak sekali produk-produk milik pemprov yang memang seharusnya tidak bisa lepas dari aspek desain dan bukan cuma masalah estetikanya saja melainkan aspek ergononi. Misalnya masalah keamanan, bagaimana desain lantai jembatan halte busway yang terbuat dari metal namun mudah melengkung dan lepas dari bautnya? Lalu jika ada pejalan kaki yang tersandung atau terpeleset bisa bahaya terkena tajamnya ujung plat metal. Lalu misalnya desain pengaturan alur keramaian penumpang, bagaimana para pembuat halte busway dan jembatannya tidak memperhitungkan alur penumpang yang datang dengan yang pergi, yang turun dengan yang naik, jadi tidak berdesakan, bertabrakan, dan serabutan.

Contoh lain lagi, bagaimana Pemprov DKI bisa tidak mempertimbangan aspek keamanan dan kenyaman dari sebuah bilboard dengan LED (screen) yang saat malam sangat terang sekali hingga menyilaukan pengemudi kendaraan yang melintas tepat di depan bilboard? Ini belum membahas bagaimana desain kursi taman, desain pemasangan tempat sampah di trotoar, hingga desain rambu-rambu petunjuk jalan kendaraan dan pejalan kaki. Wah.. banyak sekali lah!

Maka, bagi saya kejadian masalah desain kepala gerbong MRT ini harusnya dijadikan pemicu awal kepada Pemprov DKI agar jauh lebih peduli lagi dengan yang namanya desain yang berkaitan dengan warga/manusia sebagai user. Sangat malu dan ironis ketika Jakarta sebagai kota metropolitan yang sedang membangun banyak fasilitas urban, namun saat pembuatannya seolah tidak mempertimbangan aspek user, human, desain atau malah tidak melibatkan profesi desainer produk di dalam perancangan dan pembuatannya.

Semoga ke depan nanti produk fasilitas publik di DKI Jakarta akan lebih bagus, lebih indah, keren, dan terdesain!

«
»

2 comments on “MRT Jakarta: Ketika Aspek “Desain” Mulai Menjadi Perhatian Pemerintah”

  1. Bentuk kepedulian pemerintah akan desain MRT ini memang bagus sebenarnya. Tapi sayang, momennya kurang pas karena pilkada DKI ini kali ya Kang? Jadi seolah Pak Sumarsono aji mumpung atau apalah 😀

    1. motulz says:

      iya betul 🙂 banyak yang merasa bad timing, apalagi sedang ramai pilkada. Tapi well.. saya pribadi sih gak tahu bagaimana dengan schedule di dalam internal mereka? Jangan-jangan memang ada jadwal presentasi ke Pemprov DKI, trus barulah mendapat respon ini ? 😀 bisa jadi kan? tapi yaa entah lah hehehe…makanya gw coba melihat dari angle yang beda aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: