Mengintip Serunya Aktivitas Fotografi Bawah Air

P8230821

Fotografi, sudah lama saya tekuni. Walau bukan sebagai profesi tapi hobi ini lumayan membuat saya lebih membuka mata dan menghargai keindahan visual. Salah satu yang saya kagumi dari profesi fotografi ini adalah fotografi bawah air.

Dalam rangka meningkatkan arus pariwisata ke Lembata NTT, pemda di sana membuat sebuah program rutin yang berkaitan dengan kompetisi fotografi bawah air. Keindahan alam bawah air Lembata saya kira sudah tidak perlu saya bahas lagi. Merupakan bagian dari laut Nusatenggara Timur, Lembata memiliki kekayaan alam laut yang tidak kalah dengan saudara-saudaranya seperti Alor, Labuan Bajo dan seterusnya.

Menangkap keindahan alam bawah laut jelas bukan hal mudah, ada banyak sekali pertimbangan yang harus dipersiapkan dan diantisipasi. Mulai dari persiapan alat pribadi, seperti kamera bawah air juga persiapan kolektif seperti perahu, tabung, pengisian tabung dan seterusnya. Intinya, pekerjaan ini tidak sepele walaupun pada akhirnya di bawah air nanti obyek yang diambil bisa jadi sangat sepele (kecil) bahkan berukuran amat kecil. Makin kecil obyek yang akan difoto, makin rumit pula perangkat kamera yang harus disiapkan.

Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain di lautan Flores sungguh sebuah pengalaman yang seru. Mulai dari bepergian pagi buta hingga sore bahkan malam hari, sungguh mereka ini adalah penyelam yang berkomitmen tingkat tinggi. Saya berkesempatan ikut dengan rombongan kelas wahid, ada Pinneng, Edward Suadi, Ferry Rusli, Ibu Dewi Walaisono, Ibu Malinda, juga diver dari Jepang yaitu Chiku. Fotografer berikutnya adalah Gemala dan Marishcka Prudence. Sementara saya adalah fotografer kelas back up bersama Bang Rahung dan Kak Christie Wagner sebagai organizer grup. Sebagai fotografer back up, kami pun bertugas mengambil foto, gambar, dan cerita yang bukan hanya di bawah air. Tidak heran jika saya, Bang Rahung, dan Kak Christie akhirnya lebih sering mblusukan ke rumah warga, tempat ritual, atau pasar rakyat. Di situlah kami menemukan keindahan budaya Lembata selain keindahan alam bawah lautnya. Beberapa di antaranya bisa lihat ini, indahnya sebuah pulau volkano Batu Tara.

Setiap perjalanan pasti ada cerita, demikian pula dengan perjalanan yang satu ini. Cerita dari perjalanan itu sendiri hingga cerita dari masyarakat dan orang-orang yang kami temui di sana. Satu hal yang saya lakukan adalah menjadi receiver (penerima) saja atas cerita mereka. Karena banyak sekali cerita-cerita warga Lembata yang bisa jadi tidak sepenuhnya bisa kita pahami, misalnya tentang kisah perburuan ikan paus. Saya menjadi pendengar saja tanpa harus melibatkan argumentasi, pemikiran, atau pendapat saya atas cerita mereka. Ternyata lebih membuat kita nyaman dan ringan, ya bagaikan kita membaca buku saja yaitu menerima cerita secara searah.


Mau tahu indahnya pemandangan alam bukit di Lembata? baca ceritanya “Indahnya Pemandangan Bukit Cinta di Lembata”


 

Walaupun pada awalnya saya pergi dengan rombongan yang baru ketemu dan baru kenalan di bandara, namun pada akhirnya kami bisa dengan mudah cair dan becanda dalam frekwensi yang sama. Semoga kelak akan ada lagi ajakan berkunjung ke tempat lain baik dari rombongan ini maupun rombongan lain 🙂

Ada lagi yang mau ajak saya jalan-jalan? hihi..

(Foto-foto milik: Chiku, Pinneng, Edward Suadi, dan Marishcka Prudence)

 

«
»
Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: