Kenalan, Teman, Saudara, dan Sahabat

Beberapa waktu lalu saya dan teman saya Bang Rahung main ke sebuah sawah di Desa Watutena, Lembata NTT. Tanpa disangka kehadiran kami disambut begitu hangat, selain dibuatkan kopi, disajikan kudapan a la masyarakat Flores, si ibu pun menelpon anak-anaknya untuk mampir ke sawah.. “Hee cepat kemari ini ada sodara dari Jawa” – Saudara katanya 🙂

Dalam berbagai perjalanan saya, saya sering sekali bertemu dengan banyak orang asing (orang yang belum dikenal ya, bukan berarti harus orang bule) yang awalnya tidak saling kenal namun karena kami bepergian dalam satu tujuan akhirnya berkenalan dan bisa nyambung ngobrolnya. Salah satu kejadian yang buat saya menarik untuk saya ceritakan adalah kejadian beberapa waktu lalu dengan rombongan jalan-jalan #Brikpiknik -nya IndosatM3.

IMG_6191-small

Saya diajak jalan-jalan atau piknik ke Jogja, sebuah tempat yang kebetulan sering sekali saya kunjungi dalam rangka sketching untuk proyek pribadi #KangenJogja, namun perjalanan kali ini ke Jogja bersama #brikpiknik membuat saya tergugah akan makna “saudara” dalam sebuah perjalanan (traveling) atau piknik.

IMG_6077-small

Rombongan #Brikpiknik kali ini jumlahnya sekitar 25 sampai 30-an orang yang terlibat. Tidak semua kenal tapi punya kesamaan kesukaan, yaitu jalan-jalan, foto-foto, dan main-main. Akhirnya semua kenalan dan langsung akrab dengan keseruan yang sama. Ya namanya juga piknik, pasti harus seru, heboh, menyenangkan, hura-hura, dan bersuka-suka.. Saya pikir semua sama dan semua merasakan itu, namun di akhir itinerary di Jogja ini cukup membuat saya bertanya-tanya, karena agenda terakhir ini menurut saya jauh dari hura-hura, yaitu ziarah ke makam seseorang yang bernama Hamid. Saya tidak kenal orang ini dan OmDed (ketua acara) mempersilakan kami menunggu di bus jika tidak ingin ikutan ziarah. Saya pilih ikutan.. entah kenapa, padahal siang itu panas sekali dan saya salah kostum.

Ternyata, Hamid adalah salah seorang teman dan kenalan dari banyak peserta #brikpiknik ini. Awal perkenalan mereka pun ternyata berbeda-beda, ada yang cuma kenalan di media sosial, ada yang karena dikenalin, ada juga yang teman dekat, teman main, teman kerja, hingga teman proyekan. Singkat kata Hamid adalah teman dari banyak orang dan banyak kalangan. Dari makam situ saya akhirnya mendengarkan banyak kisah tentang Hamid, ia adalah orang baik.. baik sekali, yang sampai mampu membuat teman-teman dari Jakarta rela menyisihkan waktu bersuka-sukanya untuk singgah ke pusaranya. Kami semua berdoa, menebar bunga dan air wangi. Suasana tidak berarti jadi galau dan berduka. Beberapa teman menyapa Hamid biasa saja, seperti teman yang saling menyapa. Begitu pun saat kami semua pamit.. “balik dulu ya Mid.. kapan-kapan kami mampir lagi”. Duh…

Dari situ kami bergeser sedikit ke rumah orang tua Hamid, rumahnya kecil, menempel di sebuah komplek sekolahan mungkin? Kami disambut oleh ayahnya Hamid. Sudah tua, gaya Jawa, dengan perawakan kakek-kakek yang masih gagah dan tegar, saya menduga beliau punya latar belakang tentara. Apalagi ada foto beliau saat masih muda dengan seragam TNI. Kami semua disambut hangat oleh ayahnya Hamid, entah apa yang dbicarakan saya tidak paham karena semua berbicara dengan bahasa Jawa. Saya hanya mengamati satu-satu teman #brikpiknik yang sama-sama menyimak cerita ayahnya Hamid. Saya melihat banyak dari kami mulai meneteskan air mata, saya masih tidak paham cerita ayahnya Hamid jadi saya tidak bisa ikutan sedih.. maaf ya..

Tak lama, ibunya Hamid keluar dari dalam rumah menemui kami semua. Ibunya nampak tidak terlalu tua seperti ayahnya, perawakan dari umumnya ibu-ibu, berkerudung, dan sejak keluar pun sudah terisak-isak, bukan cuma sedih tapi menangis. Saat teman-teman menghampiri, menyalami, dan memeluk, si ibu pecah.. langsung tangisnya lepas. Memeluk beberapa dari kami bagai memeluk Hamid, hangat dan kuat sekali. Saat itu juga saya langsung mengucurkan air mata. Tangisan si ibu ini tulus dan nampaknya lama sekali tertahan. Ia masih rindu dengan anaknya, rindu sekali.. kehadiran kami nampaknya amat sangat membuat si ibu menyadari bahwa anaknya yang almarhum punya teman-teman yang sudah seperti saudara dan keluarganya sendiri.

Saya masih tidak kuat menahan air mata, saya malu. Sesekali saya tahan agar tidak terisak dan air mata saya lumayan terhalang oleh kaca mata. Semua itu berantakan ketika kami hendak pamit dan Teh Nit memeluk si ibu. Pecah dua kali… kali ini saya tidak sanggup, saya tidak ikut salaman pamit saya cuma menjauh dari kerumunan teman-teman, saya keluar halaman sambil menyeka air mata sambil berfikir, kenapa saya bisa begitu sedih dengan Hamid? saya tidak kenal bahkan tidak tahu wajahnya seperti bagaimana? Di akhir kunjungan, ayah Hamid hanya bilang, saya kehilangan anak satu-satunya, tapi sekarang saya punya banyak teman-teman Hamid yang saya anggap sudah seperti anak sendiri. Mohon kalau bertemu di jalan saya di sapa, mungkin saya lupa tapi tolong saya diingatkan, maklum karena saya sudah tua – itu dugaan saya, karena si bapak masih bicara dengan bahasa Jawa. Semua teman-teman #brikpiknik menyaut.. “inggih pak”.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, mulai dari bus hingga pesawat, saya masih saja kepikiran tentang bagaimana hubungan pertemanan bisa begitu dekat hingga seperti saudara dan keluarga sendiri. Berteman, hingga menjadi sahabat, yang akhirnya bisa seperti saudara dan keluarga sendiri. Saat kita bepergian kita akan banyak bertemu dengan orang yang tidak kita kenal, ya kita bisa kenalan, lebih jauh bisa jadi teman. Tapi apakah bisa merasa dekat sampai menjadi seperti saudara atau bahkan seperti keluarga? Saya pikir itu semua akan ada sebab. Kepergian saya bersama #brikpiknik seolah membuka mata dan hati saya akan hal itu. Terima kasih OmDed.. sudah mengajak saya ikutan #brikpiknik.. terima kasih teman-teman #brikpiknik, kalian seru dan menyenangkan sekali.. terima kasih Indosat yang sudah mau mengajak #brikpiknik jalan-jalan.

Hamid… kita belum sempat berkenalan, juga bertemu.. kebaikanmu tercurah dari kecintaan teman-temanmu. Ingin rasanya saya dulu sempat bertemu kamu, berkenalan, dan bekerjasama atau berkarya. Walau demikian, kamu sudah banyak memberikan cerita dan pelajaran baik untuk saya.. suwun ya dab 🙂 doa saya untukmu selalu..

Mari kita jalan-jalan lagi.. dan piknik lagi..

«
»
Tags: ,

4 comments on “Kenalan, Teman, Saudara, dan Sahabat”

  1. zam says:

    Obsat terakhir di Rumah Langsat, diadakan untuk mengenang Hamid, Kang. https://matriphe.com/2015/05/22/hamid-hmd-dan-cerita-tiga-huruf.html

    he’s good person.

    1. motulz says:

      suwun mas zam

  2. dobelden says:

    bacanya pun ikutan sedih 🙁

    1. motulz says:

      🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: