Merawat Kreativitas, Tanggung Jawab Siapa?

Pagi itu saya mendapatkan banyak sekali mention di Facebook, yaitu seorang ibu yang posting karya gambar seorang anak kelas 6 SD bernama Dzikra yang bagus sekali. Permintaan si ibu sederhana, yaitu mencari komunitas atau mentor yang berkenan membimbing anak ini. Dari sekian banyak orang yang di-mention yang juga jago gambar, saya mungkin salah satu yang bingung harus merespon apa ke si ibu ini. Kenapa?

Gambar Dzikra

Gambar Dzikra

Belum lama ini, kita merayakan yang namanya Hari Anak Nasional – Pak Jokowi dan isteri pun ikut merayakannya. Awal tahun ini pun Pak Jokowi membentuk sebuah badan yang terkait dengan aktivitas kreatif berskalan nasional. Yang menarik di sini adalah bahwasannya kreatif dan anak merupakan sebuah kompisisi alamiah. Semua pun cenderung sepakat bahwa dunia kanak-kanak adalah dunia yang sarat dan penuh dengan kreativitas.

Faktanya, seiring dengan pertumbuhan anak kita menyayangkan banyak sekali anak-anak yang rontok kreativitasnya. Alasan dan argumennya bermacam-macam, mulai dari menyalahkan sistem pendidikan, guru yang gak kreatif, minimnya sarana dan prasarana kreatif di sekolah, bahkan kementrian pun tidak lepas dari sasaran tembak. Lantas sebenarnya ini tanggung jawab siapa ya? Orang tua si anak? pembimbing? guru? kakak-adik? atau teman-teman si anak?

Kembali ke cerita Dzikra tadi, saya diminta oleh teman saya untuk menjadi salah satu mentor atau gurunya Dzikra. Alasan mereka sederhana karena saya dianggap bisa dan mampu menjadi pembimbing Dzikra. Mungkin penilaian mereka berdasarkan kalau saya bisa gambar dan saya bisa dekat dengan anak-anak mengingat saya pernah bergelut 3 tahun di Sesame Street Indonesia. OK lah pertimbangan itu saya terima.

Namun, saya mencoba berfikir lagi pertimbangan lain yang membuat saya mundur perlahan, yaitu masalah komitmen dan konsistensi. Bagi saya, membimbing seorang anak yang punya talenta itu bukan hal mudah. Tanggung jawab terbesarnya adalah kemampuan “merawat kreativitas” -nya Dzikra, termasuk disitu kemampuan berkomitmen dan konsistensi tadi. Usia Dzikra adalah usia tumbuh dan perkembangannya membutuhkan pembimbingan yang mumpuni. Salah-salah ia malah terjebak pada jalan yang menyesatkan?

10314719_10152098884916533_5129869194158117357_n

Merawat kreativitas itu bukan saja dalam hal teknis menggambar, melainkan juga menjaga mood dan rasa percaya diri si anak yang tidak boleh drop maupun melejit terlalu tinggi. Kenapa? Tidak sedikit anak-anak Indonesia yang sebetulnya punya talenta kreatif yang bagus sekali, lantas harus berurusan dengan ego yang tidak siap karena terlalu sering dipuji dan dijungjung ketinggian. Apalagi bisa sampai masuk TV. Bagi saya, ini pun bagian dari tanggung jawab “merawat kreativitas”.

Di negara maju.. ada sekolah, komunitas, sanggar, guru, dan mentor kesenian yang tersedia banyak. Mereka memang bekerja menerima para talenta-talenta muda yang kemudian dikembangkan dan dirawat secara proporsional. Mereka pun dikumpulkan dengan anak-anak bertalenta lain yang efeknya adalah membuat si anak tadi lebih membumi alias tidak tinggi hati. Di Indonesia, saya melihat ini jarang sekali, baik itu sekolah, komunitas, sanggar, atau guru, apalagi mentor. Mungkin ada tapi saya tidak tahu. Namun demikian, jarang ditemukannya pihak-pihak yang bekerja merawat kreativitas ini membuat saya berfikir, apakah ini menjadi tanggung jawab sekolah? orang tua saja, atau pemerintah lewat dibangunnya sanggar-sanggar seni? Tapi, siapa nanti yang akan membimbingnya? Nah lho..

1960114_10151880915036533_1763463945_n

Saya berfikir.. jangan-jangan yang dibutuhkan oleh anak seperti Dzikra ini hanya sebuah tempat atau komunitas yang bisa menggambar bersama-sama? Yang bisa dengan rutin bertemu muka dan berkarya bersama? Lalu bertukar pengalaman, tukar keahlian, tukar pikiran, bahkan tukar kritikan dan pujian. Yang mana akhirnya Dzikra akan mendapatkan semacam “creative environment” yang pelan-pelan akan terus merawatnya dengan kondusif dan proporsional? Tidak berkekurangan dan tidak berkelebihan.

Dzikra.. saya bukan tidak mau jadi guru atau mentor kamu, tapi saya ingin jadi teman kamu, bisa menggambar bareng sama kamu dan mau dengar cerita-cerita kamu saat menggambar 🙂 Semoga itu mampu merawat kreativitas kamu disamping kamu pun harus sekolah juga bukan? Jangan sampai tidak mau sekolah ya 😉

«
»

8 comments on “Merawat Kreativitas, Tanggung Jawab Siapa?”

  1. Arie Haryana says:

    Betul sekali kang. Anak-anak semacam Dzikra ini cuma butuh ruang kok, tak perlu pembimbing yang hanya akan bisa memujinya terus menerus karena “gift” yang si anak miliki dan pada akhirnya akan selalu seperti itu dan gitu-gitu aja..

    Tapi ketika diarahkan ke sebuah ruang kreatif, dia akan bener-bener berkembang. Motivasi, Semangat dan Tujuannya pun akan semakin berkembang dan melambung tinggi.

    Pengalaman saya gitu. Hihi

  2. Lily Ardas says:

    Halo mas… Saya Lily yang posting gambar tsb di wall saya, dan saya bukan ibunya Dzikra 😀 ….. Thanks atas tulisannya, akan saya sampaikan ke ortu Dzikra. Kami memang ga paham apa yg harus lingkungan sekitar perbuat dalam menghadapi anak seberbakat Dzikra, makanya yg kami tanyakan apakah ada komunitas atau mentor. Karena awalnya si ibu ingin memasukkan ke les menggambar yang saya khawatirkan malah gak sesuai dgn kapasitas si anak.

    Tapi melihat respon netizen yg begitu cepat meluas, saya malah jadi gamang sendiri, takutnya seperti yg mas sebut di atas. Dan alhamdulillah juga sudah ada repson dari beberapa sketcher yang urun pendapat. Moga2 orang tua dan lingkungan Dzikra mampu merawat kreativitasnya

  3. Irma Sutisna says:

    Dzikra keponakan saya memang dr kecil suka gambar kereta, terima kasih atas apresiasinya ya mas

  4. Novianti Sutisna says:

    Terima kasih mas atas apresiasinya, mudah”an saya bisa menjadi orangtua yg selalu mendukung kreativitasnya Dzikra.

  5. Dedi says:

    Halo, sebelumnya saya benar-benar minta maaf kalau perkataan saya menyinggung.

    Tapi harap dicrosscheck ulang gambar tersebut, karena dahulu saya punya teman yang juga sangat ahli menggambar di kertas dengan pensil. Dan ternyata ia menggunakan kertas karbon untuk mencopy gambar yang ia inginkan ke kertas. Apa ibu melihat proses ia menggambar dari awal hingga akhir secara langsung?

    Bukan apa-apa. Jika ternyata ia menjiplak, bukan tak mungkin justru ia malah akan tertekan, karena hal yang ia “sembunyikan” justru dibesar2kan oleh orang-orang lain (yang sebetulnya tidak paham kondisi aslinya). Saya comment begini semata-mata untuk melindungi Dzikra.

    Jika ia menggambar sendiri, berarti anak ini telah diberikan gift oleh Tuhan yang sangat berharga, saya harap gift ini jangan sampai dikubur begitu saja.

    Terima kasih.

    1. Ivan WS says:

      Mas Dedi, sebenarnya tidak ada yang salah dengan teknik gambar menjiplak, apalagi dengan hasil yang sangat baik, apalagi misalkan bila menjiplak dari sebuah foto, yang jelas lebih sulit. Banyak seniman terkenal yang hasil karyanya adalah dengan teknik menjiplak. Bahkan, orang-orang jepang awalnya ‘menjiplak’ teknologi namun malah sekarang jadi jagonya teknologi. Jadi saya kira hal ini tidak terlalu penting untuk diungkapkan dan bisa menjadi sebuah proses kreatif juga tentunya. CMIIW.

  6. Good writing, mas! Keep rockin!

    1. motulz says:

      Duh… terima kasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: