Kenapa Anak Takut Kalau Disuruh Menggambar? Ini Jawabnya!

Berapa banyak kita temukan anak-anak yang enggan, malu, atau bahkan ketakutan jika disuruh menggambar? Padahal menggambar adalah kegiatan yang sangat menyenangkan bukan? Bahkan disaat anak-anak tadi belum masuk sekolah pun mereka menyukai menggambar lho. Tapi kenapa sejak masuk sekolah jadi pada takut? Apa kira-kira penyebabnya?

Menggambar Adalah Bakat?

Beberapa waktu lalu saya diajak ke Bandung untuk melihat kegiatan seru yaitu menggambar di atas body mobil Toyota Avanza. Acara ini sebetulnya adalah kegiatan rutin dari Toyota untuk terus menyapa pengguna loyal Toyota Avanza di beberapa kota, salah satunya di Bandung ini. Yang kebetulan tahun ini mengambil ide yaitu menggambar coret-coretan di atas body mobil (doodling). Latar belakang para pemilik Avanza ini bermacam-macam, yang pasti jauh dari profesi menggambar. Mereka kemudian dibagi perkelompok untuk menggambar di salah satu sisi body yang sudah ditentukan oleh panitia. Yang menarik perhatian saya dari kegiatan ini justru bukan dari bagus atau tidaknya hasil gambar mereka melainkan tiba-tiba ada banyak saja pengunjung yang nimbrung atau dadakan ikut menggambari pojokan kosong dari badan Toyota Avanza tadi.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah seorang ibu beserta kedua anaknya. Mereka bukanlah peserta, melainkan pengunjung Trans Studio Mal (venue acara) yang kemudian tertarik duduk di tepi mobil lalu mengambil spidol yang tersedia lalu asiklah mereka mencoret-coret mobil (doodling). Keasikan mereka menggambar ini seolah tidak peduli dengan komentar siapa pun yang melihat “kualitas” gambar mereka. Bagi saya, si ibu ini berhasil menunjukkan bahwa menggambar itu mudah dan asik-asik saja. Sayang saya tidak sempat berkenalan dengan ibu tadi πŸ™‚

Menggambar adalah salah satu aktivitas kesenian, sama seperti menyanyi, baca puisi, menari, dan seterusnya. Namun merujuk pertanyaan judul tulisan ini, kenapa begitu banyak anak-anak – SD misalnya atau SMP, apalagi SMA dan kuliah, yang seolah sepakat bahwa jika mereka tidak berani menggambar alasannya adalah : tidak punya bakat. Dari mana kesimpulan bahwa mereka tidak bakat menggambar? Ternyata dari komentar-komentar guru dan orang tua mereka saat mereka masih kecil tadi.

Menggambar Adalah Nikmat

Rasa-rasanya hampir semua anak kecil (yang belum sekolah) menikmati kegiatan menggambar. Cukup diberi alat gambar, langsung mereka mencari bidang kosong yang putih bersih dan seketika dilahap dengan coretan, tembok rumah sekalipun. Imajinasi mereka yang sangat liar seolah berani lepas dari kaidah-kaidah dan teori apa itu menggambar. Saking seru dan hanyutnya, tidak sedikit dari anak-anak itu pun menggambar sambil mulutnya sibuk memberikan sound effect. Siapa dari kita yang pernah mengalami hal tersebut saat masih kecil?

Di acara Toyota Avanza tadi, saya menjadi juri dan berkesempatan sharing kepada peserta. Saya tegaskan ke mereka bahwa menggambar itu nikmat dan TIDAK ADA yang dinilai BENAR atau SALAH. Bahwa gambar mana yang dipilih menjadi pemenang itu bukan karena pertimbangan gambar ini yang benar dan gambar itu salah. Hampir banyak peserta kaget, apa iya gambar tidak ada yang benar dan salah? Ya! Gambar itu relatif jadi bukan tentang benar dan salah, melainkan bagus, tidak bagus, suka, tidak suka, cocok, tidak cocok atau keren dan tidak keren. Bagus menurut saya, belum tentu bagus menurut… Pevita Pearce misalnya. Bagus menurut Roy Suryo, ya juga belum tentu bagus menurut saya. Jadi memang tidak ada jawaban absolut-nya. Walaupun dalam kajian kesenirupaan ada yang disebut “nilai obyektif”.

Disitulah indahnya kegiatan kreasi seni. Ke-kamu-an-nya yang mustinya muncul, bahwa gambar ini adalah gambar saya, gambar kamu, gambar ibu itu, dan seterusnya. Tidak bisa ada gambar yang persis mirip identikal. Tidak akan ada! Walau dijiplak sekalipun.

Menggambar Adalah Minat

Artinya menjawab pertanyaan tadi, kenapa takut? Ya karena anak-anak tadi TAKUT dibilang gambarnya salah, atau tidak mirip, atau tidak sesuai jawaban juri. Karena si anak tidak ada bayangan yang mana gambar yang BENAR dan SALAH, maka sejak itulah si anak berkesimpulan: ternyata saya tidak bakat menggambar. Terlebih setelah itu, orang tua dan guru menguatkan pikiran si anak, bahwa tidak semua anak punya bakat menggambar.

Menggambar coret-coret itu sama persis seperti saat kita bersenandung. Untuk bisa bersenandung lagu “Halo-Halo Bandung” atau “Indonesia Raya” seorang anak tidak perlu harus tahu notasi bukan? Apalagi not balok? Nada dasar si anak pun boleh jadi beda-beda, makanya saat harus bernyanyi bersama musti ada prosesi “samakan suaranya” terlebih dahulu kan? Berbeda jika si anak mau menjadi penyanyi sungguhan atau penyanyi profesional. Disitu jelas akan dituntut KEBENARAN cara bernyanyi. Demikian pula halnya dengan menggambar. Jika seseorang mau menjadi profesional dalam menggambar maka ia harus belajar cara menggambar dan aturan-aturan yang mengikat dalam menggambar. Di situlah berlaku menggambar yang BENAR dan menggambar yang SALAH. Menggambar yang seperti ini kita sebut dengan MENGGAMBAR TEKNIS, misalnya gambar untuk arsitek atau gambar engineering.

Kini, sudah saatnya kita harus berani dan bisa menggambar seperti halnya kita bersenandung.Β  Jauhkan diri kita dan anak-anak kita dari ketakutan bayang-bayang “tidak bisa menggambar karena tidak ada bakat”. Ingat.. menggambar, menyanyi, menari, atau apa pun kegiatan seni, itu tidak cuma dari bakat tetapi di situ ada MINAT! Pertanyaannya sekarang, apakah kamu punya minat? atau tidak? πŸ™‚

Selamat bercoret-coret !

«
»

5 comments on “Kenapa Anak Takut Kalau Disuruh Menggambar? Ini Jawabnya!”

  1. Ade Truna says:

    menggambar sambil mengeluarkan suara, gak sampai kang, soalnya gambar gunung + pematang sawah, sama jalan aja di tengah mengerucut ke ujung gunung …

    senang sekali melihat doodle art di mobil pada artikel di atas, trims πŸ™‚

    1. motulz says:

      hahaha itu gambar default anak-anak Indonesia πŸ˜€ Sebetulnya gambar gunung sawah itu masih berkait lho dengan penjelasan di atas… Tapi nanti deh kalo ada waktu tak coba tulis lagi

  2. avis says:

    omegod kang motulz…ini mah lebih dari kreatif. itu pake pinsil warna apa yak bisa coret2 mobil. kali aja bisa diapus dan diganti lgi gambarnya.

    ups…met hari anak kang

    1. motulz says:

      Itu pake marker kang πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: