Runtuhnya Kejayaan Rempah-Rempah Asal Nusantara

Negara apa yang terkenal dengan rempah Cengkehnya? Yup.. Zanzibar. Lalu negara apa yang saat ini dikenal dengan julukan negara rempah karena Biji Pala-nya? Jawabnya Grenada. Lalu apakabar dengan Indonesia? Dengan Ternate dan Tidore-nya sebagai sumber dan asal-muasal dari semua rempah-rempah itu?

Gunung Gamalama, Ternate dilihat dari arah Tidore

Gunung Gamalama, Ternate dilihat dari arah Tidore

Akhir tahun 2014, saya berkesempatan diajak oleh sebuah program heritaging milik Dji Sam Soe, bernama Mahakarya Indonesia. Tahun ini mereka mengarahkan perhatiannya ke rempah-rempah, sebagai sebuah mahakarya yang membawa nama Indonesia (Nusantara) menyebar ke seluruh dunia. Yang kisahnya saya tulis di blog travel saya, Geospotter.org.

IMG_0853-small

Istana Kesultanan Ternate

Nah, masih di ujung penutup akhir tahun 2014, tiba-tiba salah satu kanal TV favorit saya – History Channel, menayangkan program yang sangat bagus sekali berjudul “Building Batavia”. Yang mana di acara ini dijelaskan bagaimana segerombolan kapal dagang Belanda masuk Nusantara demi mencari sebuah komoditi misterius yang sangat hits sekali di Eropa berupa rempah-rempah bernama Cengkeh dan Biji Pala. Koq bisa? Apakah ini sebuah kebetulan yang berkaitan?

Kembali saat saya berada di Ternate dan Tidore, sejujurnya saya memiliki ekspektasi bahwa kota ini adalah kota “rempah-rempah”, akan tetapi saya tidak merasakan “ambiance” yang khas dari ikon besar yang dimiliki Ternate dan Tidore yaitu Cengkeh dan Biji Pala? Hanya ada beberapa tugu semen berbentuk bunga Cengkeh? Kenapa? Saya mencoba tanya sana-sini dengan beberapa orang di sana, memang nampaknya keberadaan Cengkeh dan Biji Pala ini bukan menjadi sebuah komoditi yang besar bagi masyarakat sana. Penggunaan Cengkeh dan Biji Pala hanya digunakan dibeberapa jenis makanan dan minuman yang dijual sebagai suvenir para turis saja. Di masyarakatnya sendiri tidak terlalu banyak makanan dan minuman yang khas menggunakan rempah.

Simbol Cengkeh di salah satu benteng peninggalan Portugis

Simbol Cengkeh di salah satu benteng peninggalan Portugis

Namun saya beruntung ketika berkunjung ke Istana Kesultanan Tidore, kami disajikan hidangan kopi rempah. Yang katanya menggunakan racikan rempah-rempah sebagai campuran kopinya. Namun aroma dominan yang saya kenali adalah aroma kayu manis (cinnamon).

Suatu saat, saya tidak sengaja menonton program di Discovery HD World berjudul “Spice Trip”. Yang menceritakan dua orang chef yang berkeliling dunia untuk menggali kekayaan kuliner rempah. Jelas di kepala saya sudah terbayang akan kemegahan kota Ternate dan Tidore dalam program tersebut. Nyatanya? sama sekali tidak ada. Alasannya pun saya paham karena program ini memang membahas khusus kuliner yang kuat menggunakan rempah-rempah sebagai bahan bumbunya. Pilihannya tidak lain dan tidak bukan adalah kedua negara yang saya sebutkan di awal. Ketika membahas Biji Pala, mereka menjelajah Grenada. Saya pun ikut takjub bagaimana masyarakat di Grenada memperlakukan Biji Pala ini dengan sangat maksimal. Mulai dari bumbu racikan makanan utama, makanan sampingan, kudapan, bahkan sebagai campuran minuman hingga alkohol. Sangat dominan sekali keberadaan Biji Pala di Grenada ini.

Kemudian saat membahas Cengkeh, dua chef ini datang ke Zanzibar. Hal sama yang didapatkan di sana adalah bagaimana masyarakat Zanzibar menjunjung dan menggunakan Cengkeh secara maksimal dalam kehidupannya sehari-harinya. Mulai dari makanan, kudapan, minuman, hingga bahan kosmetik dan perawatan badan (spa). Bahkan dilihatkan bagaimana penjual rempah-rempah semisal Cengkeh dijual mulai dari kelas warung, pasar, dan toko. Sangat berbeda sekali dengan apa yang saya temukan di Ternate maupun Tidore.

Seperti gulai ikan, tapi rasa bumbunya mirip rendang yang dominan aroma cengkehnya

Seperti gulai ikan, tapi rasa bumbunya mirip rendang yang dominan aroma cengkehnya

Akhirnya, saya pun mencoba paham kenapa keberadaan Cengkeh dan Biji Pala ini tidak terlalu hidup di Ternate maupun Tidore. Mungkin karena jaman dulu itu, semua rempah memang dibudidayakan dan dipanen oleh masyarakat hanya untuk kebutuhan para pedagang Eropa saja? Tidak heran jika demi menguasai perdagangan rempah-rempah dunia ini, negara Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris harus rela berperang di tanah Nusantara.

Pulau Tidore dilihat dari Benteng Portugis di Ternate

Pulau Tidore dilihat dari Benteng Portugis di Ternate

Dominasi Belanda atas perdagangan rempah-rempah dunia, membuat sengit lawan dagangnya saat itu yaitu Inggris. Diceritakan di program “Spice Trip” tadi bahwa keberadaan rempah Cengkeh dan Biji Pala di Grenada dan Zanzibar ini berasal dari hasil bibit curian yang dibawa pedagang Inggris dari Indonesia ke Grenada dan Zanzibar. Inggris pun berhasil membudidayakan Cengkeh dan Biji Pala tadi di negara jajahannya, maka sejak itulah perkembangan kedua rempah tadi meningkat dan booming ke seluruh dunia dalam bentuk kuliner. Sementara di negeri asalnya, Ternate dan Tidore, keberadaan Cengkeh lebih banyak dikirim ke Jawa untuk bahan rokok kretek sementara Buah Pala nampaknya hanya diolah sebagai kudapan saja.

Kini, apa yang bisa kita lestarikan dan kita banggakan dari heritaging kejayaan rempah-rempah asal Nusantara ini? Kalau dulu Cina punya “Silk Road” sebagai jalur perdagangan sutra kelas dunia lewat darat, maka Indonesia memiliki “Spice Trail” sebagai jalur perdagangan rempah kelas dunia lewat laut. Kita harus bangga dengan itu! 🙂

 

«
»

6 comments on “Runtuhnya Kejayaan Rempah-Rempah Asal Nusantara”

  1. zam says:

    prihatin, sih.. di negeri asalnya, rempah malah seperti kehilangan kemahsyurannya.. perlu ditumbuhkan kesadaran untuk mencintai rempah, kang..

    1. motulz says:

      Iya euy.. walaupun ga tahu juga bagaimana cara menumbuhkan kesadarannya 😀 Mungkin ya dengan tulisan2 sederhana kayak gini kali ya dibanyakin

  2. Mumun says:

    Waktu ke Talaud, ternyata pala banyak dipake buat makanan yang terbuat dari anjing dan babi saja. Hmm.. apa karena banyak pengaruh Islam juga jadi rempahnya ga banyak dipake di makanan ya?

    1. motulz says:

      Mustinya sih ngga ngaruh 😛 soalnya di Spice Trip itu gak banyak koq resep makanan yang haram 😀 cuma ada satu, daging buntut pake kuah wine 😀 nyam nyam..

  3. Denny says:

    Pala jagonya di kepulauan Banda, sampai sekarang masih eksis..

  4. sedih, asal rempah2 malah runtuh.. padahal bisa jadi ciri khas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: