Kompromi Kreatif

Semua iklan produk makanan harus ada adegan makan, semua iklan minuman wajib ada adegan minum. Pun tak terkecuali iklan produk rokok, pada awalnya wajib ditampilkan adegan seseorang yang sedang merokok. Ya wajib! tidak boleh tidak!

Pernyataan barusan rasanya tidak asing bagi mereka – pekerja kreatif di biro iklan yang bekerja untuk klien perusahaan makanan dan minuman. Hanya saja sejak awal tahun 2000-an (lupa persisnya) pemerintah mengeluarkan peraturan pelarangan adegan merokok, batang rokok, asap rokok, bahkan bungkus rokok di semua iklan rokok. Baik itu iklan di media cetak maupun iklan di media elektronik.

Sementara itu, ada hal yang unik dalam iklan makanan dan minuman yang tayang di bulan puasa yaitu tidak sedikit masyarakat yang complain dengan tayangan adegan makan atau sedang minum. Alasannya adegan tersebut masih dianggap cukup memikat dan provokatif bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa. Hanya saja memang hingga saat ini tidak ada keputusan peraturan yang melarang tayangan iklan tersebut. Semoga tidak perlu..

Nah! yang ingin saya ceritakan di sini adalah sebuah iklan minuman pelepas dahaga yang menurut saya cukup menjadi terobosan dalam menyampaikan pesannya. Selain iklan minuman ini memang dibuat untuk tema puasa, iklan ini mencoba keluar dari pakem iklan minuman yang saya tulis di awal tadi. Ya betul! tidak ada adegan sedang minum di dalam iklan berdurasi 30 detik ini. Pesan dari iklan ini pun menurut saya cukup fenomenal, yaitu semacam pesan satir :

“Hey guys, ayo berfikir jernih. Apa iya… cuma lihat air dikit aja, bisa ganggu puasa kamu?”

Terasa gak kalau pesan tersebut sebetulnya umum menjadi pertanyaan banyak orang di saat bulan puasa kan? Nampaknya pesan ini yang coba diangkat oleh agency iklan dengan ide penyajian ringan, rileks, dan becanda. Bukan dengan pesan yang dictating, menggurui, atau protes gaya aktivis. Rileksnya pesan iklan ini langsung terasa ketika kita hampir bisa langsung mengenali voice over iklan ini adalah suara Cak Lontong, sang komedian senior. Rasanya kita langsung terkena sindiran Cak Lontong.

Namun, ada hal lain yang menurut saya lebih menarik untuk dikaji dan dipelajari dari fenomena iklan ini, yaitu bagaimana cara tim kreatif iklan ini meyakinkan pihak klien sebagai pemilik brand dan pemilik budget iklan. Bagaimana tim kreatif berani membawa ide “tema” taboo ini ke pihak klien dan bagaimana pihak klien bisa berkompromi dengan ide yang tidak biasa. Di sinilah yang menurut saya penting dipelajari oleh teman-teman pekerja kreatif atau bahkan teman-teman pemegang brand? Bahwa ide kreatif kadang butuh sebuah langkah “berani” yang keluar dari pakem. kalau istilah orang lawas yaitu “out of the box” atau keluar dari kebiasaan.

Semoga iklan, ide iklan, dan klien seperti ini bisa menginspirasi para pekerja iklan dan pemegang brand untuk ke depannya. Karena bagi saya sih terus terang aja, bosan rasanya melihat iklan yang begitu-begitu saja, alias “cuma main aman” 🙂 ya kan?

 

«
»

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: